THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES

Minggu, 10 April 2011

MENYIKAPI EUFORIA FENOMENA POLISI BERNYANYI (Pemerintah dan Masyarakat Salah Merespon?)

Briptu Norman Kamaru asal Gorontalo mulanya hanyalah seorang polisi biasa dari daerah yang cenderung jarang dilirik masyarakat. Tapi sekarang siapa yang tak kenal sosok itu? Mulai dari anak-anak, tua-muda, kalangan umum, selebriti, hingga pemerintah pun kenal dan bisa menirukan aksi Briptu Norman yang bergaya ala Syakhrukh Khan.



Ya, pria yang masih muda, tampan, dan bertubuh atletis ini telah menyedot perhatian seluruh masyarakat Indonesia berkat aksi lipsingnya yang di-upload ke situs youtube. Walaupun menurut pengakuannya ia sama sekali tidak tahu-menahu soal peng-upload-an ini dan nyaris menerima sanksi, namun animo masyarakat yang besar justru mendukung dan membawa langkahnya ke dunia keartisan.



Terlepas dari benar atau salah tindakan Briptu Norman ini, seharusnya ada hikmah yang bisa diambil dari peristiwa/kasus video tersebut. Namun ternyata dari sekian banyak masyarakat di negeri ini hanya beberapa yang mampu menangkap hikmah "terselubung" tersebut. Kebanyakan dari masyarakat hanya mengartikan sebatas "Polisi juga manusia.", "Polisi juga punya bakat yang tak kalah dengan artis yang sudah populer.", "Briptu Norman telah mengubah citra polisi yang selama ini begitu ditakuti masyarakat menjadi sebuah sosok yang dekat dan mampu menghibur masyarakat.", dan lain sebagainya yang isinya senada dan "paling banter" hanya mengulas soal bakat dan pencitraan polisi.



Hal tersebut di atas sangat didukung oleh gencarnya infotainment/berita gossip yang hanya sibuk berkutat pada euforia masyarakat dan meraup keuntungan sebanyak-banyaknya dari tayangan tersebut tanpa terlalu menitikberatkan pada bagian yang paling penting yaitu tindakan lanjut atas peristiwa ini. Sebagai bukti kalau pemirsa mau lebih cermt lagi dalam menonton infotainment, pasti isinya akan sama pada semua stasiun televisi. Hanya berkisar pada aksi-aksi Briptu Norman dan antusiasme masyarakat dalam menirukan gaya video lipsing tersebut.



Tidak adakah yang menyadari bahwa dari aksi-aksi tersebut dan lagu-lagu yang dinyanyikan mencerminkan suasana hati dan ungkapan yang tersembunyi dari seorang bahkan hampir semua pengabdi masyarakat khususnya polisi? Stressing/tekanan, entah itu terikat peraturan rasa bosan yang kadang menghinggapi mereka ataupun bentuk tekanan yang lainnya, pasti dirasakan oleh para aparat polisi. Banyak yang lupa bahwa mereka bukan robot tetapi manusia, yang memiliki tugas sepenuhnya melayani masyarakat tanpa ada "pelayanan" khusus bagi mereka. Pernahkah tercetus dalam benak setiap orang terutama pemerintah untuk memberikan sekadar terapi tertawa bagi para polisi secara berkala dalam kurun waktu tertentu untuk menghindari stress?



Kalau sekarang Briptu Norman banyak mendapatkan pujian dan tawaran muncul di TV serta rekaman, mungkin tidak jadi masalah karena ia memiliki talenta yang memadai untuk industri musik dan dunia hiburan. Tapi bagaimana nasib briptu-briptu yang lain yang saat ini masih mengalami stress dan tidak bisa mengekspresikan dirinya?



Marilah kita semua bangun dari mimpi-mimpi sesaat ini, yang pada akhirnya akan dengan mudah dilupakan tanpa adanya perubahan yang berarti dalam masyarakat! Ubah sudut pandang yang semu dan menciptakan perubahan nyata!