Ni cerpen sebenernya udah di-emailkan ke Anime Insider, tapi aku ga tau dimuat atau ga coz aku ga pernah langganan majalah itu sihh, hehee.. Jadi kalo da pembaca blog ni yang tau "eien NO place" pernah dimuat mohon kasi tau yaw ^^ Arigatou...
Kresakkkkk...
Untuk kesekian kalinya setiap pagi Yoruichi meremas dan melemparkan selembar kertas dengan tampang kesal. Tiba-tiba Soifon datang dan memungut kertas itu.
"Wah sudah yang ketujuh. Dari orang yang sama pula. Pantang menyerah juga orang itu," kata Soifon sambil mengamati kertas yang diremas itu tanpa membukanya.
Soifon memandang pada Yoruichi yang hanya diam. Lalu Yoruichi berdiri dan berlalu dari situ. Beberapa saat kemudian ia sudah tampak rapi.
"Mau keluar?"seloroh Soifon begitu melihat Yoruichi.
"Ya," jawab Yoruichi datar.
"Kencan?"
Tak ada reaksi.
"Kenapa bawa pedang?"
Masih tak ada reaksi, Soifon mulai kesal,"Hey!!"
Sriingg... Pandangan mata Yoruichi yang tajam tiba-tiba membayang.
"Ee...Ee..." kata Soifon dengan takut,"Maksudku....paling tidak kau bisa beri tahu aku kau mau pergi ke mana dan untuk apa kau sampai bawa pedang."
Yoruichi memandang Soifon, katanya,"Aku keluar sebentar, kau jaga rumah. Pedang ini...hanya untuk jaga-jaga."
Setelah mengucapkan itu Yoruichi berangkat. Jantung Soifon masih berdetak kencang. Dalam hati ia berpikir,"Kukira dia akan bilang 'Mungkin saja salah satu guna pedang ini adalah untuh membunuhmu karena kau banyak tanya.' AAaaaaaRRrrggghhh..... Aku tidak mau mati sepagi ini!!!"
Sampai di pintu, Yoruichi yang hendak keluar berbalik,"Oh ya aku ingin bilang sesuatu. Lain kali kalau kau banyak omong begitu, pedang ini akn menebasmu." Lalu Yoruichi menutup pintu geser. Sedangkan Soifon terpaku dengan wajah pucat pasi.
***
Trangg... Traaannngg...
Suara pedang yang tengah beradu terdengar di antara rimbunhutan bambu yang biasanya sunyi. Di sela kegelapan terlihat kilatan-kilatan pedang yang berbenturan.
Ssrrraaakkk... Bruuuaaaghh
Kembali beberapa pohon bambu rubuh. Di tengah pertarungan yang sengit Yoruichi berkata,"Siapa kau?? Kenapa tiba-tiba menyerangku? Aku bahkan tak mengenalmu!"
Tak ada respon, hanya seringai yang membuat kumis orang tua di depan Yoruichi terangkat. Bukan sembarang orang tua, dia sangat KUAT!
Sssrraaakkk... Keduanya terhempas. Yoruichi mengatur napas, tampak sedikit kewalahan.
"Cantik...,"tiba-tiba lelaki tua itu berbicara."Aku ingin mengabadikan kecantikanmu."
Deg... Jantung Yoruichi berdegup dan ia tertegun.
"Kau...Kaulah yang selama ini mengirim puisi-puisi itu padaku. Lalu sekarang kau ingin membunuhku?! Dasar GILA!!!" teriak Yoruichi.
Yoruichi benar-benar geram. Dikerahkannya kekuatan untuk kembali menyerang.
Drrraaagghh... Lelaki itu tak kalah siap dan sigap. Hal ini membuat Yoruichi terpelanting. Sekarang ia terdesak. Lelaki itu melangkah ke arah Yoruichi, diangkatnya pedang tinggi-tinggi. Whhuuzzz...pedang pun terayun.
Srraakk.. secepat kilat Yoruichi mundur sambil mengayunkan pedang. Ia selamat, dan... mata Yoruichi nanar melihat apa yang ada di depannya. Ternyata sambil mengayunkan pedang tadi tanpa sengaja ia menyingkap jubah yang sedari tadi menutupi tubuh Si Tua itu.
"Ka-ka-kau...Kuroi Sabato. Lelaki gila yang selalu membawa kepala wanita cantik di pundakmu!!"
Kuroi Sabato menyeringai. Yoruichi benar-benar kesal. Diam-diam dikumpulkannya segenap tenaga dan tekanan roh menjadi satu. Mengalir menjadi kekuatan besar pada pedangnya. Muncul kilatan mengerikan dalam pedang itu dan dalm satu hentakan Yoruichi maju menyerang Kuroi Sabato.
Sssrratt... Kuroi Sabato bergerak lebih cepat dan berhasil melukai bahu Yoruichi. Nyaris saja serangan itu memutus lengannya. Tapi dengan gerakan kilat Yoruichi kembali menyerang. Dia memutar pedangnya dan mengarahkan serangannya ke satu tempat. Tepat di antara bahu Kuroi.
"Kau juga menginginkan kepalaku bukan?"kata Yoruichi sambil menarik pedangnya ke belakang,"Kalau begitu kau harus memyiapkan tempat istimewa untuk mengabadikan Yang Mulya Yoruichi! Dan tempat itu... DI SINI!!!"
Craaasshh.. kepala itupun terjatuh dari badannya.
***
"Aku pulang."
"Yang Mulya, selamat datang."
"Sudah kau bakar surat itu?"
"Ya. Ternyata surat tantangan."
"Bersihkan pedangku! Bau darah..."

0 komentar:
Posting Komentar